Ini Lima Falsafah Hidup Orang Jawa yang Patut Kamu Tiru

Belajar Kehidupan dari Falsafah Hidup Orang Jawa

Sikap serakah menuruti hawa nafsu dan mengedepankan ego sudah jamak dilakukan oleh banyak orang saat ini. Hedonisme yang semakin kuat tak pelak juga menjadikan sebagian orang tidak lagi peduli dengan kelestarian alam tempat bergantung hidup seluruh umat manusia. Bahkan bukan hanya alam yang rusak, tatanan kehidupan sosial masyarakat dengan kearifan lokalnya sudah menjadi hal yang sulit untuk kita temui.

Tidak bisa dipungkiri, kemajuan zaman telah membawa banyak perubahan yang mau tidak mau harus kita sikapi. Dan salah satu cara menyikapi perubahan yang terjadi, adalah dengan memiliki cara pandang yang arif terhadap kehidupan.

Orang-orang jawa selama ini dikenal sebagai masyarakat yang kental dalam menjaga adat dan kearifan lokalnya. Salah satunya yang bisa kita pelajari adalah tentang cara pandang orang jawa terhadap kehidupan, atau yang lebih dikenal dengan falsafah hidup orang jawa.

Meski falsafah hidup orang jawa berasal dari kearifan lokal masyarakat jawa, namun tidak menutup kemungkinan kita bisa mempelajarinya dan menerapkannya dalam kehidupan di mana pun kita tinggal. Berikut ini falsafah hidup orang jawa yang bisa kamu pelajari dan terapkan sebagai pedoman diri dalam menjalani kehidupan.

[Baca juga: Inilah Alasan yang Membuat Kamu Harus Menjadi Diri Sendiri]

Sepi Ing Pamrih

Source : youtube.com
Source : youtube.com

Selain diciptakan sebagai makhluk sosial, manusia juga merupakan makhluk individu yang memiliki kehidupannya sendiri. Namun menjadi makhluk individu bukan berarti harus menjadi individualisme yang mengarah pada egoisme. Egoisme inilah yang oleh masyarakat jawa disebut sebagai pamrih.

Pamrih juga menjadikan seseorang acap mengambil keuntungan atas perbuatan-perbuatan yang dia lakukan demi kepentingannya sendiri. Sikap seperti inilah yang harus bisa dihilangkan oleh seseorang, atau yang disebut dengan sepi ing pamrih.

Seseorang harus bisa ikhlas dalam melakukan setiap perbuatan dan menjalani kehidupan dengan cara yang sederhana. Apa pun perbuatan baik yang dilakukan tidak perlu dipamerkan pada orang lain. Tidak menganggap diri sendiri paling hebat dan tidak mengharap balas jasa pada perbuatan baik yang telah dilakukan.

Rame Ing Gawe

Source : cakrawalamahasiswayogyakarta.blogspot.com
Source : cakrawalamahasiswayogyakarta.blogspot.com

Rame ing gawe bisa diartikan sebagai bekerja keras. Kerja keras yang dimaksud bukan hanya kerja untuk memenuhi kewajiban sendiri dan keluarga, tapi juga bekerja keras untuk memenuhi kewajiban dan perannya dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Sikap rame ing gawe juga harus bisa dilandasi dengan sikap sepi ing pamrih, sehingga segala sesuatu yang dikerjakan baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, maupun untuk kepentingan masyarakat, bisa dilakukan dengan ikhlas.

Narima Ing Pandum

Source : kisahasalusul.blogspot.com
Source : kisahasalusul.blogspot.com

Rezeki dan anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap orang pastinya berbeda dengan yang lainnya. Oleh karena itulah kita harus bisa memiliki sikap narima ing pandum, atau memiliki sikap sadar atas perbedaan anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap orang.

Sikap narima ing pandum akan menjadikan diri kita terhindar dari perasaan iri dan dengki yang bisa mengarahkan pada perbuatan-perbuatan tercela. Kita akan menjadi pribadi yang pandai bersyukur dan memiliki pengendalian diri yang baik dalam menjalani kehidupan.

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

Source : satujam.com
Source : satujam.com

Mikul dhuwur mendhem jero merupakan falsafah hidup bagi seorang anak. Mikul dhuwur memiliki arti memikul tinggi-tinggi, yang bermakna seorang anak harus bisa senantiasa meninggikan derajat orang tuanya, mengharumkan nama ayah dan ibu dan menjaga martabat keluarga.

Sementara mendhem jero memiliki arti mengubur dalam-dalam, yang bermakna seorang anak harus bisa mengubur dalam-dalam keburukan yang dimiliki oleh orang tuanya, serta mengubur aib yang mungkin dimiliki oleh keluarganya.

Wani Ngalah

Source : Phinemo.com
Source : Phinemo.com

Wani ngalah memiliki arti berani mengalah. Sikap wani ngalah berbeda dengan kalah, karena orang yang berani mengalah lebih mengedepankan untuk menjaga perasaan orang lain daripada menuruti egonya sendiri. Permusuhan, pertengkaran ataupun pertarungan dianggap hanya akan menimbulkan kerugian bagi kedua pihak yang bertentangan, sehingga tidak ada manfaat positifnya.

Orang yang memiliki sikap wani ngalah, akan memiliki prinsip menang ora kondhang kalah wirang yang memiliki arti kemenangan tidak menjadi sebuah kebanggaan dan kekalahan hanya akan memalukan. Orang yang berani mengalah akan bisa menempatkan diri pada situasi apa pun dan bijaksana dalam menyikapi hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

Falsafah hidup orang jawa seperti ini menjadi sebuah kearifan lokal yang tetap relevan untuk diterapkan oleh semua orang dalam kehidupan sehari-hari. Bisa mempelajari dan menerapkannya dalam setiap perilaku, akan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang arif dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Berbagi dan Diskusi

Written by Yudi Setyadi

Penyuka kopi dan gunung