Benarkah Mahasiswa Sekarang itu Penggerak Perubahan Bangsa?

Benarkah Mahasiswa Sekarang, Penggerak Perubahan Bangsa?

Apa yang terlintas di pikiran kamu ketika mendengar kata mahasiswa? Pasti akan berpikir “Wow, Keren! Ialah generasi pembawa perubahan bagi bangsa, dan juga tempatnya anak-anak pergerakan”.

Mungkin hal tersebut ada benarnya ketika kita melihat mahasiswa generasi beberapa dekade silam. Tapi mari kita coba melihatnya dengan seksama, baik di jalan, di komunitas, pin di seputar kampus, benarkah begitu?

Berbicara mengenai mahasiswa sekarang, pasti akan berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Ya, hal tersebut pasti karena dipengaruhi oleh dinamika perkembangan zaman. Semakin sedikit mahasiswa sekarang yang aktif dalam pergerakan ataupun sekadar mengasah soft skills mereka. Mahasiswa sekarang terlalu sibuk dengan segudang kegiatan akademiknya dan berlomba mendapatkan nilai yang tinggi, bisa skripsi cepat, segera lulus, kemudian bisa mencari pekerjaan, bukan membikin pekerjaan. Entah disadari atau tidak oleh mahasiswa sekarang bahwa sebenarnya ada beberapa hal penting dari hanya sekadar mengejar nilai atau lulus cepat.

Mungkin juga bukan melulu kesalahan mahasiswa zaman sekarang jika fenomena yang terjadi seperti itu. Karena kita pun tak bisa menutup mata terhadap sistem yang berlaku. Kampus mengharuskan mahasiswa cepat lulus, karena jika tidak, besar kemungkinan juga akan membuat grade-nya turun. Sehingga di sisi lain kita pun tak bisa mengelak jika kampus masa kini juga hanya bisa mencetak mahasiswanya sebagai karyawan sebuah perusahaan pun instansi lain. Sama sekali bukan pencetus ide sekaligus pelakunya.

Pentingnya Mengasah Soft Skills Selama Masa Kuliah

source : pixabay.com | CC0
Source : pixabay.com | CC0

Beberapa tahun belakangan, terlihat semakin berkurang mahasiswa yang berminat untuk mengikuti organisasi mahasiswa. Padahal disadari atau tidak, pelajaran dan pengalaman yang didapat di organisasi sewaktu-waktu pasti akan berguna ketika mahasiswa tersebut terjun ke dunia kerja.

IPK tinggi memang merupakan salah satu penunjang yang menentukan pekerjaan seorang mahasiswa ketika sudah lulus. Namun, bekal soft skills juga penting. Ketika mengikuti organisasi kita akan dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang menuntut adanya penyelesaian. Selain itu, kita juga dibiasakan untuk kerja dalam tim. Hal-hal seperti itu akan berguna untuk mengahadapi dunia kerja yang penuh dengan tekanan.

Mahasiswa Sekarang Seakan Enggan Diajak “Susah”

source : pixabay.com | CC0
Source : pixabay.com | CC0

Ketika bergabung dengan sebuah organisasi, permasalahan yang muncul adalah sulitnya anak zaman sekarang untuk diajak belajar dan berproses di dalam organisasi.

Atau mungkin salah satu alasan mengapa berkurangnya minat mahasiswa untuk terjun ke dalam organisasi mahasiswa karena akan menyita waktu mereka untuk bersenang-senang? Namun, kita juga tidak bisa menilai semudah itu. Semua akan kembali pada pribadi dan keinginan dari mahasiswa untuk mengembangkan dirinya, bukan saja hanya sebatas pada bidang akademik. Coba kita lihat lebih dalam, kegiatan-kegiatan di luar kegiatan akademik, sebenarnya akan memberikan pengalaman dan pengetahuan baru yang lebih bermanfaat bagi kita ketimbang sekadar menghabisakan waktu untuk hang out.

Mahasiswa Seolah Terlalu Ditekan dengan Padatnya Jadwal Akademik

source : pixabay.com | CC0
source : pixabay.com | CC0

Kuliah, praktikum, tugas kuliah, belum lagi laporan praktikum, tidak hanya satu mata kuliah, namun bisa lebih dari lima mata kuliah. Seperti tidak diberikan waktu untuk sedikit mengeksplorasi diri. Bahkan untuk mengembangkan diri dalam bidang seni, teater mislanya, sepertinya tak ada waktu lagi.

Sebenarnya apa sih tujuan dari semua itu? Agar cepat lulus? Kalo sudah lulus memang mau apa? Bekerja? Yakin bisa langsung mendapatkan pekerjaan?Lalu di mana letak “kemahaan” dari kata mahasiswa itu?

Bayangkan saja, satu kali periode wisuda suatu perguruan tinggi akan melulusakan setidaknya 500-2000 wisudawan, jika dalam satu tahun ada dua sampai empat kali periode wisuda? Itu Baru dari satu perguruan tinggi, di Indonesia ada berapa banyak perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta? Apakah berbanding lurus dengan lowongan pekerjaan yang tersedia? Belum lagi sikap selektif dari lulusan dalam mimilih pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang menjadi penganggur. Betapa pentingnya dalam berorganisasi dan mengasah soft skills, selain bisa mendapatkan pengalaman baru, kita juga bisa menambah relasi kita, baik jika kita ingin bekerja maupun ketika memang kita ingin menjalankan bisnis sendiri.

[Baca juga: Mahasiswa: Harapan Bangsa Sebelum Tamat, Beban Bangsa Setelahnya!]

Nah, itulah beberapa hal penting yang terkadang luput dari perhatian mahasiswa sekarang. Jangan hanya berpikir tentang kesenangan saja, terkadang kita juga harus berpikir keras, mengeluarkan lebih banyak energi dan waktu untuk bisa mengembangkan diri. Jangan terlalu berorientasi untuk jadi pekerja, tapi tidak ada salahnya jika kita berpikir untuk membuka bisnis sendiri dan lebih baik jika bisa sampai menyediakan lapangan pekerjaan untuk orang lain.

Berbagi dan Diskusi

Pemimpi Profesional