Kenapa Bisa Mengalami Tidur “Tindihan”?

Ini yang Sebenarnya Terjadi Saat Mengalami Tidur “Tindihan”

Sebagian dari kita pasti ada yang pernah mengalami tidur “tindihan”.  Suatu kondisi dimana kita sulit bergerak, bicara, bahkan sulit untuk bernapas pada saat tidur. Karena dianggap aneh, kejadian seperti ini sering dikaitkan dengan hal supernatural.

Namun, tahukah kamu sebenarnya apa yang terjadi di balik tidur “tindihan” ini?

Tidur “tindihan” disebut dengan sleep paralysis.

source : en.wikipedia.org
source : en.wikipedia.org

Sleep paralysis atau tidur lumpuh merupakan kondisi dimana seseorang sadar bahwa dirinya tidak dapat menggerakkan badannya di luar kehendak. Hal ini terjadi sebelum tertidur atau pada saat terbangun dan diklasifikasikan sebagai parasomnia yang berkaitan dengan REM (Rapid Eye Movement). Meskipun penderita sleep paralysis ini tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya, ia masih bisa menggerakkan mata.

Apa itu REM?

source : pixabay.com | CC0
source : pixabay.com | CC0

REM atau Rapid Eye Movement merupakan rangkaian dari fase tidur. Pada saat kita tidur, kita akan melewati beberapa fase, antara lain :

  • Fase satu : masa transisi antara bangun dan akan tertidur.
  • Fase dua : aktifitas otak melambat, pergerakan mata berhenti, kecepatan bernapas dan detak jantung menurun.
  • Fase tiga : tubuh mulai melakukan perbaikan, tekanan darah dan suhu tubuh turun.
  • Fase empat : tidur yang sangat dalam, tenang, gelombang amplitudo otak tinggi, dan sulit untuk terbangun.
  • REM : akitivitas otak tinggi, tubuh dilumpuhkan, mimpi sebagian besar terjadi pada fase REM ini.

Masing – masing fase berlangsung selama sekitar 90 menit dan berulang empat sampai enam kali dalam semalam (Katz, 2005).

Kenapa terjadi sleep paralysis?

source : pixabay.com | CC0
source : pixabay.com | CC0

Sleep paralysis terjadi ketika gelombang otak tidak bekerja sesuai tahapan tidur di atas. Jadi ada tahapan yang terlewat dari tidur ringan langsung masuk ke fase REM. Pada saat itu tubuh belum siap untuk bangun, sehingga memerlukan lebih banyak waktu dan biasanya sering disertai dengan halusinasi yang umumnya bersifat mistik. Hal tersebut tejadi berkaiatan dengan kondisi neurologi dan psikologi dari masing – masing individu.

Kita mengalami halusinasi pada saat sleep paralysis

source : flickr.com/Adriano Agullo
source : flickr.com/Adriano Agullo

Menurut Cheyne (1999), halusinasi yang terjadi pada saat tidur “tindihan” dibagi menjadi tiga kategori :

  • Halusinasi pergerakan vestibular terdiri dari beberapa kejadian seperti terbang, berputar, mengapung, atau terjatuh. Halusinasi ini dapat digambarkan seperti kejadian keluarnya jiwa dari tubuh dan setelah itu kita bisa melihat tubuh kita sendiri terbaring di tempat tidur atau sofa.
  • Intruder merupakan halusinasi yang melibatkan perasaan kehadiran makhluk lain disertai dengan halusinasi visual, suara, dan kadang – kadang sentuhan.
  • Incubus, terjadi sulitnya bernafas, tercekik, badan terasa ada yang menekan biasanya di bagian dada, kesakitan, dan berpikir bahwa kita sedang sekarat. Incubus biasanya berkorelasi dengan intruder.

Nah, jadi itulah sebenarnya yang terjadi ketika kita mengalami tidur “tindihan”. Jika kondisi fisik dan psikologis kamu kurang baik, kemungkinan untuk mengalami sleep paralysis ini lebih besar karena gelombang otak tidak bekerja dengan baik. Jangan takut dan bepikir kalau kamu “diapa – apakan” oleh makhluk halus, karena ternyata ada penjelasan ilmiahnya loh. Well, semoga bermanfaat dan tidak perlu berpikir parno lagi jika mengalami tidur “tindihan”.

Referensi :

Girard, T. A & J. A. Cheyne. 2004. Individual Differences in Lateralisation of Hallucinations Associatted with Sleep Paralysis. Laterality, 2004, 9 (1), 93 111 DOI : 10.1080/13576500244000210.

Katz, H. 2005. Sleep Paralysis. The Columbia Science Review.

 

Berbagi dan Diskusi

Pemimpi Profesional