Pilih Sahabatan atau Pacaran?

Mau Pacar, atau Sahabat?

Dunia remaja memiliki kehidupan yang sangat menarik karena pada usia ini ia sedang belajar mencoba hal-hal baru yang dianggapnya menarik pun menantang. Dan ketika ia berhasil maka seolah ia telah sukses menunjukkan jati dirinya. Para remaja acap mencoba mengenali siapa dirinya. Pertanyaan seperti “Siapa sih aku?” “Apa sih kesukaanku?“ sering muncul seiring berjalannya waktu.

Tak pelak orang yang lebih tua/dewasa pun akan semakin mengerti apa yang diinginkan si remaja dalam hidupnya.

Semakin besar ruang lingkup pergaulan, menjadikan remaja semakin mengenali dirinya sendiri, tak terkecuali  dalam mengenali urusan asmara. Semakin sering bertemu dengan lawan jenis, maka itu akan dijadikannya sebagai media belajar mengenali sosok pasangannya di kemudian hari. Calon suami atau istri impian.

Awal mula rasa suka terhadap lawan jenis bisa dimulai dari mana saja, bisa dari saat Ospek masuk pertama kuliah, ketika ikut organisasi, sewaktu antri beli tiket busway, tatkala meminjam buku yang sama di perpustakaan, atau bahkan rasa suka itu jatuh kepada sahabat sendiri karena setiap waktu selalu bergaul secara dekat dan akrab.

Artinya, tak bisa dipungkiri jika pertemuan sesaat, berkenalan dan lalu sering ngobrol bisa menjadikan sarana sebagai ajang mencari sahabat terbaik.  Selanjutnya jika itu terjadi pada lawan jenis, maka atas dasar kenyamanan persahabatan yang kamu rasakan, bisa saja timbul rasa cinta.

Jadi menurutmu apakah sebuah kesalahan jika jatuh cinta itu muncul justru kepada sahabat sendiri?

Sahabatmu Belum Tentu Tahu Kamu Jatuh Cinta Kepadanya

A Couple
Sources: pixabay.com | CC0

Aduh… rasanya enggak enak banget jika harus memendam perasaan cinta sendirian, apalagi jika kamu sering bertemu dengan sahabatmu, baik di dalam group line, whatsapp, ataupun dalam organisasi tertentu yang menyebabkan kita jadi lebih sering ketemu.

Seperti cacing kepanasan gitu deh, enggak nyaman bergerak kemana-mana, memaksa diri untuk menarik perhatiannya agar menyadari kalau kita menyimpan perasaan suka padanya tapi takut jika rasa cintamu akan merusak keseruan saat masih sahabatan.

Jatuh Cinta Boleh, Tapi Harus Bisa Kontrol Diri

Anoying
Sources: pixabay.com | CC0

Terkadang karena terlalu nyaman dengan persahabatan yang kalian jalin, maka ketika ada sesuatu yang menyinggung perasaan, kamu mendadak menjadi sensitive dan berubah sikap, terlebih lagi jika sahabatmu tidak mengerti perasaan cintamu kepadanya.

Kamu bisa terlihat kekanakan dengan sikap uring-uringan enggak jelas, tiba-tiba left group chating atau enggak pernah menyapa si dia sampai berhari-hari, tapi kamu nangis mewek di kamar sendirian, galau merenungi nasib sial asmaramu.

Kalau Hanya Sekadar untuk Pacaran, Enggak Usah deh…

Sources: pixabay.com | CC0
Sources: pixabay.com | CC0

Memiliki sahabat dekat menjadikan kita tahu segala sifat baik dan buruknya, makanan kesukaannya, hobi dan lain sebagainya. Bahkan bisa jadi hobi kentutnya sehabis makan menjadi hal yang sangat biasa kamu dengar karena kebiasaan makan berdua dengannya.    Akibatnya, bisa saja si do’i berubah jaim dan lebih berhati-hati kala berdua denganmu lagi, khususnya ketika sudah menjadi pacar kamu.

Tentu saja hal begini akan mengurangi keseruan hidup yang sebelumnya telah kalian jalani. Ketimbang ngelihat orang jaim alias jaga image, mending jadi sahabat, bukan?

Daripada Cuma Pacaran, Minta Dia Jadi Suami saja Sekalian

Wedding Couple
Sources: pixabay.com | CC0

Jika memang sudah yakin banget si do’i bisa menjadi partnermu seumur hidup, kenapa enggak mencoba meminta ia jadi suami saja?

Lagi-lagi nggak usah sok jaim-lah… Cewek melamar cowok duluan juga enggak masalah kok, selagi dia single dan belum digebet orang lho.     Menjadi pasangan suami istri dengan sahabat sendiri tentu menjadikan kehidupanmu jauh lebih seru. Kamu sudah mengenali keluarganya, kebiasaan buruknya, makanan kesukaannya dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Kamu seperti menjalani kehidupan persahabatan tapi sudah halal, sehingga bisa bebas mau ngapain aja. Lebih seru, bukan ?

 

Berbagi dan Diskusi

Written by Aisy Laztatie

Suka Jalan-jalan