Ini Celetukan Khas Dono, Kasino dan Indro yang Bikin Kamu Kangen Mereka

Masih ingat dengan Warkop DKI?, film yang dibintangi oleh Dono, Kasino dan Indro ini seolah tidak ada habisnya menghibur masyarakat Indonesia. Meskipun dirintis pada akhir tahun 1970-an, sampai sekarang film-film yang bisa dibilang sudah jadul ini masih sering diputar oleh beberapa stasiun televisi.

Kelakuan konyol, jahil dan karakter jenaka dari para pemeran dalam Warkop DKI menjadikan film ini cukup fenomenal pada masanya. Hingga nama Dono, Kasino dan Indro pun melambung di kancah perfilman Indonesia.

Selain kelakuan konyol dan jahil, Dono, Kasino dan Indro juga dikenal dengan celetukan khas yang biasa mereka ucapkan. Beberapa celetukan itu bahkan booming dan sering digunakan oleh para anak muda dan orang tua dalam bercanda.

Berikut ini beberapa celetukan lucu dari Dono, Kasino dan Indro yang populer di masyarakat Indonesia.

Gile lu ndro” yang sering diucapkan oleh Kasino

sumber : id.wikipedia.org
sumber : id.wikipedia.org

Kamu mungkin pernah mendengar celetukan ini diucapkan oleh temanmu dan sudah tidak asing lagi. Celetukan “gile lu ndro” dipopulerkan oleh Kasino dalam Warkop DKI. Pria asal Kebumen, Jawa Tengah ini sangat sering mengucapkannya yang ditujukan pada Indro.

Saking seringnya Kasino mengucapkannya, celetukan ini pun menjadi populer dan ditiru oleh para penonton. Celetukan lain yang sering diucapkan oleh Kasino adalah “ngomong aja lu bau”. Celetukan ini juga cukup populer, tapi masih kurang populer jika dibandingkan dengan “gile lu ndro”.

Jangkrik bos” yang pertama kali diucapkan oleh Indro

sumber : biografi-info.blogspot.com
sumber : biografi-info.blogspot.com

Celetukan “jangkrik bos” pertama kali diucapkan oleh Indro dalam film Chips. Dalam adegan film ini Dono, Kasino dan Indro secara kebetulan memergoki bosnya yang sedang bermesraan dengan cewek di semak-semak.

Saat ditanya, si bos malah menjawab kalau lagi nyari jangkrik. Karena Indro tahu kejadian yang sebenarnya, dia pun nyeletuk “jangkrik bos” yang diucapkan seperti sebuah kode. Dan setelah kejadian itu, celetukan ini pun sering digunakan untuk memberikan kode atau mempengaruhi si bos. Hingga si bos pun menjadi baik pada Dono, Kasino dan Indro karena takut mereka menyebarkan informasi kejadian yang sebenarnya.

Dari adegan film ini, celetukan “jangkrik bos” menjadi populer di masyarakat. Banyak orang juga yang menirukannya untuk memberi kode pada teman. Hingga saat ini, celetukan “jangkrik bos” masih cukup populer dan masih sering kita dengar.

Bibir monyong kaya bemo” yang ditujukan untuk mengejek Dono

sumber : jagat-biografi.blogspot.com
sumber : jagat-biografi.blogspot.com

Kalau kamu masih ingat dengan film Gengsi Dong, kamu pasti tidak akan asing dengan celetukan ini. Dono yang memiliki bibir monyong sering diejek oleh teman-temannya yang menganggap bibir Dono mirip bemo. Hingga muncullah celetukan “bibir monyong kaya bemo”.

Gegara film ini, banyak orang yang punya bibir monyong juga mendapatkan ejekan yang sama dari temannya. Celetukan ini pun berkembang menjadi “itu bibir apa bemo”, “dasar bemo”, “bemo lu” dan masih banyak lainnya yang berkembang di masyarakat.

Bodoh dipiara, kambing dipiara bisa gemuk”

sumber : serbatujuh.blogspot.com
sumber : serbatujuh.blogspot.com

Dari sekian banyak celetukan lucu dalam Warkop DKI, Kasino bisa dibilang yang paling banyak mengucapkannya. Logat bahasa daerah menjadikan celetukan-celetukan dari Kasino terdengar khas bagi para penonton.

Selain “gile lu ndro”, Kasino juga punya celetukan “bodoh dipiara, kambing dipiara bisa gemuk”. Celetukan ini ditujukan pada orang lain yang dianggap melakukan kesalahan atau terlihat bodoh. Memelihara kebodohan dianggap tidak ada manfaatnya, berbeda kalau memelihara kambing yang bisa bertambah gemuk.

Celetukan lain yang juga digunakan Kasino adalah “dasar IQ jongkok”. Celetukan ini pun sama ditujukan pada orang yang dianggap melakukan kesalahan atau terlihat bodoh.

Celetukan-celetukan khas ini menjadi bagian dari melejitnya Warkop DKI yang dibintangi Dono, Kasino dan Indro. Film kocak yang dibuat dengan mengangkat realita sosial pada era 70-an dan ikut memberi warna pada perfilman Indonesia. Jadi kangen sama adegan kocak mereka.

Berbagi dan Diskusi

Written by Yudi Setyadi

Penyuka kopi dan gunung