Mahasiswa: Harapan Bangsa Sebelum Tamat, Beban Bangsa Setelahnya

Jangan terlalu bangga jadi mahasiswa

Jangan terlalu bangga jika sudah bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. Pertama, banyak orang yang tidak bisa sekolah. Banyak orang tidak bisa sekolah hanya karena tidak punya biaya, hidup di wilayah yang sulit sampai tidak bisa sekolah karena berada di wilayah konflik. Kedua, status mahasiswa tidak menjamin apa pun soal masa depan anda. Ijazah memang membantu anda, tapi pengetahuan, keterampilan dan kepribadian yang terlatih tidak selalu berasal dari ruang kelas di kampus. Kapasitas itu justeru terkadang harus dipelajari di luar kelas perkuliahan.

Judul di atas adalah candaan. Biasanya muncul saat orang mulai merefleksikan masa paska kuliah, mulai menyadari mencari kerja tidak mudah, tapi tidak banyak bisa beranjak dari sekedar mencari kerja. Frasa “beban bangsa” menunjukkan kemungkinan situasi di mana keluaran pendidikan yang berijazah justeru tak berkutik di tengah tuntutan zaman yang terus berubah.

Setiap orang bisa saja jadi harapan bangsa, tak terkecuali mahasiswa. Tapi, mahasiswa yang tidak “move on” mempersiapkan diri, bisa saja jadi beban bangsa. Bahaya tidak bisa “move on” ini harus dipikir baik-baik oleh mahasiswa, apalagi  yang suka bersenang-senang 24 jam dan 24 karat selama berkuliah. Catat baik-baik beberapa hal berikut ini yang perlu dijauhi mahasiswa dan yang sudah tamat:

Terkurung Ijazah dan Bidang Studi

Dilema Mahasiswa
Sumber: Pixabay.com

Ijazah bagi orang bak segalanya. Harus ditaati, dipatuhi dan pemiliknya harus menyesuaikan diri. Jadi kalau ijazah kuliah berisi bertuliskan sarjana psikologi membuat pemiliknya berpikir habis-habisan untuk hanya berkarya, bekerja dan bahkan berkutat pada urusan yang terkait psikologi. Ini berlaku juga untuk ijazah-ijazah lain yang kalau disebutkan satu-persatu jurnal ini bisa penuh. Terkurung dalam ijazah membuat kreativitas macet, membuat pemiliknya jadi katak dalam tempurung. Padahal dunia itu luas, bekerja apa pun boleh, asal tidak merugikan orang lain. Apalagi berkarya, apa pun boleh. Catatannya sama.

Tamat dan Mencari Kerja

Mahasiswa
Sumber: Pixabay.com

Pikiran ini juga banyak ada di benak mahasiswa. Wajar, dan sangat wajar. Tapi kalau didewakan, jangan!. Ini juga terkait dengan cara perguruan tinggi memperlakukan mahasiswa. Mahasiswa wajib tamat cepat, biar cepat bekerja katanya. Semakin baik dan banyak lulusan yang bekerja, apalagi di institusi yang keren, maka akreditasi kampus bakal melambung. Bekerja itu bukan semata bekerja dan tidak melulu formal. Saat berkebutan lulus, banyak mahasiswa yang lupa bahwa “soft skill” dan keterampilan penunjang dibutuhkan di ruang kerja. Ketika tamat, terkejutlah dalam masa persiapan dan pencarian kerja.

Jangan terlalu nafsu berkebutan lulus tanpa menyiapkan keterampilan pendukung. Sedikit terlambat lulus karena berorganisasi, magang atau belajar hal-hal di luas bangku kuliah bagus untuk mahasiswa menyiapkan diri supaya bisa bersaing setelah tamat.

Terlalu Banyak Memakmurkan Kafe

mahasiswa
Sumber: Pixabay.com

Ongkang-ongkang, bergurau dan bersenang-senang. Kebiasaan ini jadi trend mahasiswa sekarang. Toko buku yang berjejalan di kampus pada era sebelum 2003 hilang tenggelam karena semakin sedikit mahasiswa yang berbelanja buku. Uang saku buat beli pulsa, jalan-jalan: bersenang-senang. Cobalah melintasi beberapa kawasan di sekitar kampus-kampus besar, mudah sekali kita menemukan kafe yang ramai pada malam hari. Penghuninya banyak mahasiswa. Ada yang bersekolahnya juga pindah ke kafe, mengerjakan PR di Kafe, hidup dari satu kafe ke kafe lainnya. Ingat, masa muda itu pendek.

Lupa Menabung

Jangan harap hidup itu selalu mudah. Jangan juga berharap kerja akan datang cepat sekali setelah tamat sekolah sehingga dompet segera terisi. Tapi ingat pepatah umum: jangan sombong dan sukalah menabung!. Tidak ada salahnya menyisihkan uang jajan buat persiapan, entah buat modal atau persiapan setelah tamat kuliah. Jangan berharap orangtua selalu bisa membayar kebutuhan kita. Lagi pula, apa tidak malu mengadahkan tangan terus ke orangtua?

Nah, para mahasiswa. Mari berpikir :).

 

 

Berbagi dan Diskusi

Penggemar sepakbola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *